Artikel Terkait

lutut sakit saat berdiri
lutut sakit saat berdiri

Lutut Sakit Saat Berdiri: Ini Penyebab dan Cara Mengobatinya

lutut berbunyi
lutut berbunyi

Lutut Berbunyi: Cara Mengobati dan Mencegahnya

sakit dengkul
sakit dengkul

Sakit Dengkul pada Wanita: Ini Penyebab yang Perlu Diketahui

pencegahan nyeri lutut
pencegahan nyeri lutut

Pencegahan Nyeri Lutut dengan Vitamin dan Makanan Sehat

penyebab lutut berbunyi
penyebab lutut berbunyi

Penyebab Lutut Berbunyi pada Anak: Apa Saja Sih?

penyebab nyeri bahu
penyebab nyeri bahu

Penyebab Nyeri Bahu pada Anak dan Cara Mengobatinya

terapi lutut sakit
terapi lutut sakit

Terapi Lutut Sakit Modern Adalah Terapi Regeneratif: Apa Itu?

penyebab lutut sakit
penyebab lutut sakit

Penyebab Lutut Sakit dan Cara Mengobatinya

lutut berbunyi di usia muda
lutut berbunyi di usia muda

Lutut Berbunyi di Usia Muda: Apa Penyebabnya?

penyebab lutut sakit di usia muda
penyebab lutut sakit di usia muda

Penyebab Lutut Sakit di Usia Muda dan Cara Mengobatinya

penyakit lutut
penyakit lutut

Penyakit Lutut pada Lansia dan Cara Mengobatinya!

keseleo
keseleo

Penyakit Lutut Keseleo: Inilah Penyebab dan Cara Mengobatinya!

Cari Artikel Lainnya

Lachman Test: Tes Fisik Utama untuk Mendiagnosis Cedera ACL

Januari 12, 2025

Lachman Test

Supaya bisa mengkonfirmasi diagnosa cedera ACL dengan tepat, dokter biasanya akan melakukan serangkaian pengujian. Salah satu pengujiannya adalah Lachman Test.

Cedera ACL atau Ligamen Anterior Cruciate sendiri merupakan kondisi dimana ligamen utama lutut mengalami kerusakan, baik karena kecelakaan, pukulan langsung hingga aktivitas fisik berlebihan.

Padahal, ligamen ini memiliki peran penting dalam keseimbangan tubuh dan stabilitas lutut.

Apabila Anda sudah mengalami gejala ACL, maka segera jadwalkan konsultasi dengan dokter spesialis berpengalaman di Klinik Patella melalui WhatsApp di nomor 0811-8124-2022. Tujuannya supaya penanganan yang tepat bisa segera diberikan.

Banner Zaskia dekstop

Apa Itu Lachman Test?

Lachman test atau uji Lachman merupakan tes mobilisasi pasif yang dilakukan untuk menguji kestabilan tibia (tulang kering) dan femur (tulang paha) dengan menilai gerakan abnormal ke arah depan.

Fungsi Lachman test pada cedera ACL yaitu untuk memeriksa lutut fisik pertama kali serta mengkonfirmasi terjadinya penyakit tersebut pada tubuh sehingga bisa segera diberikan penanganan yang tepat.

Sebab, ACL yang normal harusnya dapat menahan tibia dari gerakan translasi (gerakan lurus secara horizontal dan vertikal).

Namun, kondisi tibia yang dapat bergerak tanpa tahanan menuju anterior mengindikasikan adanya robekan ACL yang mengakibatkan terjadinya cedera

Hal tersebut menjadi dasar dari Dr Peter Lachman (penemu test) dalam menentukan hasil positif dari uji Lachman.

Cara Melakukan Lachman Test

Cara melakukan Lachman test umumnya hanya akan melalui beberapa langkah sederhana. Dengan inilah, dokter bisa mendiagnosis cedera ACL dengan lebih optimal sekaligus memutuskan perawatan terbaik.

Sebelum melakukan Lachman Test, penguji baik itu dokter harus melakukan pengujian PCL terlebih dahulu untuk menghindari false positive (kesalahan)  pada hasil uji.

Setelah mengeliminasi kemungkinan PCL, penguji dapat melaksanakan prosedur Lachman Test sebagai berikut:

  1. Posisikan pasien dalam kondisi berbaring dan rileks, kemudian tekuk lutut pasien membentuk sudut 20-30 derajat.
  2. Selanjutnya penguji meletakan salah satu tangannya di belakang tibia, sementara tangan lainnya diletakan pada paha atau femur.
  3. Pastikan jempol pemeriksa diletakan tepat pada tuberositas tibialis untuk menilai normalitas tibia dan femur yang dapat mengindikasikan adanya cedera ACL.
  4. Setelah posisi lutut pasien stabil dan jempol penguji berada pada posisi yang tepat, selanjutnya dokter akan melakukan translation tibial atau menarik tibia dengan sedikit memutar ke arah muka sementara tangan lainnya menahan posisi femur.

Dengan translation tibial, penguji dapat menentukan apakah tibial masih memiliki tahanan yang “firm” atau tidak.

Hilangnya tahanan tibial menyebabkan bagian tersebut dapat bergerak menuju anterior (anterior tibial translation) yang mengindikasikan hasil positif dari Lachman test. Hasil positif dari uji Lachman menjadi indikator cedera ACL pada pasien.

Fungsi Lachman Test dalam Mendiagnosis Cedera ACL

Sebagai metode pengujian dengan tingkat akurasi tinggi, Lachman test berfungsi untuk menentukan diagnosa ACL serta tingkat keparahannya. 

Tentunya hal tersebut dapat dijadikan landasan untuk menentukan penanganan yang tepat untuk memaksimalkan proses penyembuhan.

Tolak Ukur Lachman Test

Tes fisik untuk diagnosis cedera ACL dalam lachman test ini menetapkan dua tolak ukur utama dalam melakukan penilaian, yaitu titik akhir pergerakan Tibia serta kekuatan ACL saat diberikan tekanan

  • Titik Akhir Pergerakan Tibia: ACL memberikan batasan gerak pada tibia atau tulang kering. Jika tibia dapat bergerak ke arah depan maka dapat disimpulkan bahwa terdapat indikasi adanya cedera pada anterior cruciate ligament (ACL).
  • Kekuatan ACL: kondisi ACL yang terasa lemah dan loyo saat diberikan tekanan menandakan ligamen ini mengalami cedera.

Derajat Cedera ACL berdasarkan Lachman Test

Selain itu, Test Lachman juga dapat berfungsi untuk menentukan diagnosa cedera ACL serta derajat keparahan dari cedera yang dialami.

Derajat keparahan ini ditentukan dengan cara membandingkan pergeseran Tibia pada lutut yang cedera dengan lutut normal. Indikasi tingkat keparahan dapat dilihat sebagai berikut:

  • Cedera Ringan (grade 1): Terdapat cedera ringan jika tibia bergerak dari 2 hingga 5 mm dibandingkan kondisi normal.
  • Cedera Sedang (grade 2): Dikategorikan cedera sedang jika tibia bergerak (anterior translation) dari 5 hingga 10 mm dari kondisi normal.
  • Cedera Parah (grade 3): Tibia bergeser ke depan dengan jarak 10 hingga 15 cm dibandingkan kondisi normal.

Keakuratan Lachman Test dalam Evaluasi Cedera ACL

Tes Lachman sebagai prosedur pemeriksaan ligamen ACL hadir dalam bentuk pengujian fisik dari luar. Selain Lachman, setidaknya ada dua pilihan test lain untuk melakukan diagnosa cedera ACL, yaitu Anterior Drawer dan Pivot Shift.

Dari ketiga physical test tersebut, Lachman test merupakan uji ACL yang paling valid. Hal ini karena uji ini memiliki tingkat sensitivitas dan spesifitas yang paling tinggi dibandingkan dengan tes lainnya.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Katz dan Fingeroth menunjukkan bahwa Lachman test memiliki tingkat sensitivitas 77,7% dengan tingkat sensitivitas lebih dari 95% pada diagnosa cedera ACL akut.

Sementara itu pada diagnosa ACL kronis, uji Lachman memiliki tingkat sensitivitas sebesar 84,6% dengan sensitivitas lebih dari 95%.

Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa uji Lachman memiliki tingkat akurasi tinggi sehingga menjadi pilihan uji fisik utama dalam menegakkan diagnosa cedera ACL.

Uji Penunjang Lachman Test

Meski dinilai sebagai jenis uji yang akurat dalam menentukan diagnosis cedera ACL, namun Lachman tetaplah test fisik berdasarkan fisiologi dari luar saja sehingga masih memiliki kemungkinan hasilnya tidak 100% akurat. 

Itulah mengapa, test ini disebut sebagai “pengujian pertama” yang perlu dilakukan saat mengalami gejala nyeri, khususnya setelah mengalami cedera olahraga, tepatnya pada bagian lutut.

Apabila pada test ini, hasilnya positif, maka tenaga medis umumnya akan menyertakan uji penunjang lainnya untuk mengeliminasi kemungkinan kondisi lainnya, yaitu:

  • Foto Rontgen/ X-RAY: Rontgen memberikan gambaran yang jelas mengenai kondisi tulang. Pengujian ini digunakan untuk memeriksa adanya retakan atau patah tulang pada area lutut.
  • Magnetic Resonansi Imaging (MRI): Pemeriksaan imaging dengan MRI dilakukan untuk melihat tanda-tanda kerusakan pada jaringan lain di lutut, termasuk tulang rawan. Selain itu hasil dari MRI dapat membantu menentukan tingkat keparahan cedera ACL yang Anda alami.
  • Ultrasonografi (USG): Uji pencitraan ini dilakukan untuk menunjang hasil uji Lachman dalam diagnosis cedera ACL dengan melihat cedera pada ligamen, otot lutut, serta tendon.

Tindakan Setelah Hasil Lachman Test

Lachman test beserta uji penunjang lainnya dapat mendeteksi tingkat keparahan dari cedera ACL yang dialami.

Setelah pasien mendapatkan hasil positif, maka dokter tentu akan langsung memberikan prosedur penanganan cedera ACL yang disesuaikan dengan tingkat keparahannya, yaitu:

1. Terapi non bedah

Ligamen lutut yang rusak hanya dapat disembuhkan dengan pembedahan, namun pasien lanjut usia atau bagi mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu opsi terapi non bedah lebih diutamakan. Terapi non bedah pada cedera ACL meliputi penggunaan bracing serta fisioterapi.

  • Bracing: Mengenakan brace sangat dianjurkan untuk menjaga kestabilan lutut.
  • Terapi fisik ACL (fisioterapi): Fisioterapi sangat membantu untuk mengurangi gejala serta pembengkakan akibat cedera, selain itu fisioterapi dapat memulihkan fungsi lutut melalui latihan khusus.

2. Tindakan Bedah

Apabila tingkat cedera sudah parah, maka dibutuhkan tindakan pembedahan ACL sehingga penderitanya dapat kembali melakukan aktivitas fisik dengan leluasa dan nyaman. 

Tindakan bedah ditujukan untuk rekonstruksi ACL dengan cara mengganti ligamen yang rusak menggunakan graft dari bagian tubuh lain.

Cedera Lutut? Ke Klinik Patella Aja!

Cedera ACL umum terjadi pada orang yang beraktivitas dengan intensitas tinggi seperti atlet. Umumnya, dokter akan melakukan pengujian fisik uji Lachman sebagai langkah pertama saat penderita mengeluhkan gejala.

Oleh karena itu, jika Anda memiliki keluhan gejala cedera khususnya pada ligamen lutut, pastikan untuk membawanya segera ke layanan kesehatan terpercaya seperti Klinik Patella.

Terlebih, klinik Patella merupakan fasilitas kesehatan yang berfokus untuk menangani masalah nyeri sendi, tulang dan otot.

Melalui dokter ortopedi dan fisioterapis berpengalaman, keluhan Anda dapat diagnosa dan ditangani segera sebelum bertambah parah.

Oleh karena itu, yuk segera jadwalkan konsultasi dengan dokter dan hubungi kami melalui WhatsApp di nomor 0811-8124-2022, atau mengunjungi kami langsung di Klinik Patella, Jalan Hj. Tutty Alawiyah No.34B, Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan.

Pertanyaan Seputar Lachman Test

Berikut ini adalah beberapa pertanyaan seputar topik Lachman Test.

Apa itu Lachman Test dan apa fungsinya dalam mendiagnosis cedera ACL?

Lachman Test adalah tes mobilisasi pasif yang dilakukan untuk menguji kestabilan tibia (tulang kering) dan femur (tulang paha) dengan menilai gerakan abnormal ke arah depan.

Fungsinya adalah untuk memeriksa lutut secara fisik pertama kali dan mengkonfirmasi terjadinya cedera ACL.

ACL yang normal seharusnya dapat menahan tibia dari gerakan translasi, namun jika tibia dapat bergerak tanpa tahanan menuju anterior, ini mengindikasikan adanya robekan ACL.

Bagaimana cara melakukan Lachman Test yang benar?

Cara melakukan Lachman Test:

  1. Posisikan pasien berbaring rileks dengan lutut ditekuk 20-30 derajat
  2. Letakkan satu tangan di belakang tibia dan tangan lainnya pada femur, dengan jempol tepat pada tuberositas tibialis
  3. Lakukan translation tibial dengan menarik tibia sedikit memutar ke arah depan sambil menahan posisi femur
  4. Evaluasi apakah tibial masih memiliki tahanan yang “firm” atau tidak. Hilangnya tahanan tibial yang menyebabkan gerakan anterior mengindikasikan hasil positif.

Bagaimana derajat keparahan cedera ACL berdasarkan hasil Lachman Test?

Derajat keparahan ditentukan berdasarkan pergeseran tibia dibandingkan kondisi normal:

  • Cedera Ringan (grade 1): tibia bergerak 2-5 mm dari kondisi normal
  • Cedera Sedang (grade 2): tibia bergerak 5-10 mm dari kondisi normal,
  • Cedera Parah (grade 3): tibia bergeser 10-15 cm dari kondisi normal.

Pergeseran ini dinilai melalui anterior translation tibia pada lutut yang cedera dibandingkan dengan lutut normal.

Seberapa akurat Lachman Test dan apa saja uji penunjang yang diperlukan?

Lachman Test memiliki akurasi tinggi dengan sensitivitas 77,7% dan spesifisitas lebih dari 95% pada cedera ACL akut, serta sensitivitas 84,6% pada ACL kronis.

Sebagai uji penunjang diperlukan:

  • Foto Rontgen/X-Ray untuk memeriksa retakan atau patah tulang
  • MRI untuk melihat kerusakan jaringan lunak dan menentukan tingkat keparahan cedera ACL
  • USG untuk melihat cedera pada ligamen, otot, dan tendon lutut.

Artikel Lainnya

sakit lutut karena obesitas

Sakit Lutut Karena Obesitas, Bagaimana Mengatasinya?

arthroscopic debridement

Arthroscopic Debridement: Manfaat dan Prosedur Untuk Pemulihan Sendi

lutut sakit saat berjalan

Kenapa Lutut Sakit Saat Berjalan di Usia Muda? Ini Jawabannya!

Efektif! Nyeri Bahu Kronis Sembuh dengan Radiofrekuensi Ablasi - Patella

Efektif! Nyeri Bahu Kronis Sembuh dengan Radiofrekuensi Ablasi