Banyak orang berpikir bahwa satu-satunya jalan keluar dari nyeri lutut adalah operasi. Padahal, kini ada pilihan lain yang lebih aman yaitu radiofrekuensi ablasi (RFA).
Nyeri lutut yang tak kunjung sembuh bisa sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Mulai dari susah berjalan, sulit naik tangga, hingga tidak bisa berdiri terlalu lama—semua ini adalah keluhan umum yang dirasakan oleh penderita nyeri lutut kronis.
Prosedur RFA ini semakin populer sebagai solusi pengobatan non-operasi sekaligus bagian dari intervensi manajemen nyeri modern untuk mengatasi nyeri lutut yang sudah tidak mempan dengan obat-obatan maupun suntikan biasa.
Dalam dunia kedokteran, pendekatan ini juga dikenal sebagai pain management berbasis tindakan intervensi nyeri yang minim risiko.
Jika ingin berkonsultasi tentang nyeri lutut dan sendi dengan dokter ahli Klinik Patella dapat menghubungi melalui WhatsApp di 0811-8124-2022. Yuk atasi cedera kaki dan sendi Anda bersama Klinik Patella!
Daftar Isi
- Apa Itu Radiofrekuensi Ablasi?
- Bagaimana Cara Kerja Radiofrekuensi Ablasi Lutut?
- Pertama, mengapa lutut bisa terasa sangat nyeri?
- Kedua, bagaimana panas bisa menghilangkan nyeri?
- Prosedur Radiofrekuensi Ablasi Nyeri Lutut: Seperti Apa Prosesnya?
- Apa Saja Manfaat Radiofrekuensi Ablasi Lutut?
- Berapa Lama Efek Radiofrekuensi Ablasi Lutut Bisa Bertahan?
- Radiofrekuensi Ablasi vs Operasi Lutut: Apa Perbedaannya?
- Kapan Radiofrekuensi Ablasi Dianjurkan?
- Siapa Saja yang Cocok Menjalani Radiofrekuensi Ablasi?
- Radiofrekuensi Ablasi untuk Lansia dengan Nyeri Lutut
- Apakah RFA Aman?
- Bagaimana Pemulihan Setelah Radiofrekuensi Ablasi Lutut?
- Biaya Radiofrekuensi Ablasi Lutut
- Kesimpulan tentang Radiofrekuensi Ablasi
- Klinik Patella: Klinik Spesialis Nyeri Lutut dan Sendi Terbaik
- FAQ: RFA
Apa Itu Radiofrekuensi Ablasi?
Sederhananya, radiofrekuensi ablasi adalah prosedur medis yang bekerja dengan cara “mematikan sementara” saraf yang mengirimkan rasa sakit dari lutut ke otak.
Bayangkan seperti ini: ketika sendi lutut Anda rusak akibat pengapuran, ada saraf-saraf kecil di sekitar sendi yang terus-menerus mengirim sinyal “sakit” ke otak. Saraf-saraf inilah yang disebut saraf genikular (Genicular Nerves).
Tindakan radiofrekuensi ablasi genikular atau Genicular Nerve Ablation bertujuan untuk memutus sementara kiriman sinyal nyeri tersebut, sehingga otak tidak lagi “menerima” rasa sakit dari lutut.
Prosedur RFA lutut ini masuk dalam kategori terapi minimal invasif sekaligus prosedur minimal invasif dalam bidang teknologi radiofrekuensi dalam kedokteran, artinya tidak ada sayatan besar, tidak ada tulang yang diganti, dan tidak perlu bius total.
Dokter hanya memasukkan jarum tipis khusus (jarum RFA) ke titik-titik tertentu di sekitar lutut, lalu mengalirkan panas dari generator radiofrekuensi untuk menonaktifkan saraf tersebut.
Bagaimana Cara Kerja Radiofrekuensi Ablasi Lutut?
Untuk memahami cara kerja radiofrekuensi ablasi lutut, ada dua hal yang perlu diketahui terlebih dahulu.
Pertama, mengapa lutut bisa terasa sangat nyeri?
Pada penderita degenerasi sendi lutut atau gonarthrosis, lapisan pelindung tulang yang disebut tulang rawan, yang melapisi permukaan tulang paha (femur), tulang kering (tibia), dan tempurung lutut (patella), semakin menipis seiring waktu.
Akibatnya, tulang-tulang tersebut bergesekan langsung satu sama lain, menimbulkan nyeri akibat peradangan sendi yang terasa setiap kali bergerak. Rasa sakit ini ditangkap dan diteruskan oleh saraf genikular ke otak.
Kedua, bagaimana panas bisa menghilangkan nyeri?
Dalam prosedur radiofrekuensi ablasi pada saraf lutut, dokter menggunakan alat pencitraan seperti USG (ultrasonografi) atau fluoroscopy (semacam X-ray real-time) untuk memastikan jarum diarahkan tepat ke lokasi saraf.
Setelah posisi jarum dipastikan benar, ujung jarum dipanaskan hingga sekitar 80 derajat Celcius menggunakan gelombang dari generator radiofrekuensi.
Panas ini menciptakan kerusakan kecil (lesi) pada saraf sehingga saraf tidak lagi bisa meneruskan sinyal nyeri ke otak—inilah inti dari cara kerja ablasi saraf dalam prosedur ini.
Penting untuk diketahui: ada dua jenis teknologi yang digunakan, yaitu konvensional dan cooled (berpendingin).
Teknologi cooled radiofrequency ablation menghasilkan area lesi yang lebih luas, yang berguna karena letak saraf genikular bisa sedikit berbeda pada setiap orang.
Prosedur Radiofrekuensi Ablasi Nyeri Lutut: Seperti Apa Prosesnya?
Banyak orang khawatir bahwa prosedur radiofrekuensi ablasi nyeri lutut ini menyakitkan atau rumit. Kenyataannya, prosedur ini cukup singkat dan tidak memerlukan rawat inap.
Secara umum, inilah yang akan terjadi selama prosedur berlangsung:
- Pasien berbaring dalam posisi nyaman, kemudian dokter membersihkan area lutut dan menyuntikkan anestesi lokal agar tidak terasa sakit selama prosedur
- Dengan panduan USG atau fluoroscopy, dokter memasukkan jarum RFA ke tiga titik saraf genikular utama di sekitar lutut.
- Sebelum panas dialirkan, dilakukan stimulasi listrik ringan (Diagnostic Nerve Block) untuk memastikan jarum sudah tepat sasaran dan tidak menyentuh saraf motorik (saraf yang menggerakkan otot kaki)
- Setelah posisi dikonfirmasi, gelombang radiofrekuensi dari generator dialirkan selama 60–90 detik untuk menonaktifkan saraf.
Seluruh proses berlangsung sekitar 30–60 menit, lalu pasien bisa langsung pulang.
Apa Saja Manfaat Radiofrekuensi Ablasi Lutut?
Manfaat radiofrekuensi ablasi lutut sudah dibuktikan oleh banyak penelitian medis internasional, termasuk yang dipublikasikan di jurnal Arthroscopy. Berikut manfaat utamanya:
Nyeri berkurang secara signifikan
Penelitian menunjukkan bahwa radiofrekuensi ablasi untuk osteoarthritis lutut atau pengapuran lutut mampu menurunkan tingkat nyeri lebih dari 40% dalam waktu 24 minggu setelah prosedur.
Bagi banyak pasien, ini adalah perbedaan antara tidak bisa berjalan dan bisa kembali beraktivitas normal.
Lebih mudah bergerak.
Ketika nyeri berkurang, pasien jadi lebih bisa mengikuti program rehabilitasi medis dan fisioterapi.
Otot-otot di sekitar lutut pun bisa diperkuat kembali, sehingga mobilitas dan fungsi lutut meningkat secara keseluruhan. Ini berdampak langsung pada kualitas hidup penderita nyeri lutut sehari-hari.
Tidak lagi tergantung obat pereda nyeri
Banyak pasien yang sebelumnya harus rutin mengonsumsi obat antiinflamasi atau pereda nyeri lutut yang kuat bisa mengurangi, bahkan menghentikan, konsumsi obat tersebut setelah menjalani terapi radiofrekuensi untuk nyeri lutut kronis.
Ini tentu menguntungkan karena konsumsi obat jangka panjang memiliki efek samping yang tidak ringan.
Berapa Lama Efek Radiofrekuensi Ablasi Lutut Bisa Bertahan?
Ini adalah salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan. Berapa lama efek radiofrekuensi ablasi lutut bertahan?
Berdasarkan penelitian yang diterbitkan di jurnal medis internasional, efek terapi nyeri kronis dari prosedur ini bisa bertahan hingga 12 bulan (1 tahun).
Beberapa studi bahkan melaporkan manfaat yang terasa hingga 24 bulan. Teknologi cooled umumnya memberikan hasil yang lebih stabil dalam jangka waktu tersebut.
Perlu dipahami bahwa saraf manusia memiliki kemampuan untuk pulih dan tumbuh kembali secara alami.
Oleh karena itu, efek RFA memang tidak permanen seumur hidup. Namun kabar baiknya, jika nyeri kembali muncul setelah beberapa waktu, prosedur ablasi saraf ini dapat diulang kembali dengan aman.
Radiofrekuensi Ablasi vs Operasi Lutut: Apa Perbedaannya?
Banyak pasien bertanya tentang perbandingan radiofrekuensi ablasi vs operasi lutut. Keduanya memiliki tujuan yang sama—mengurangi nyeri—tetapi dengan cara dan konsekuensi yang sangat berbeda.
Operasi penggantian lutut (Total Knee Replacement atau TKR) adalah prosedur besar yang melibatkan pembedahan, anestesi umum, pemasangan implan logam, dan masa pemulihan berbulan-bulan.
Meski efektif untuk kerusakan sendi lutut yang sangat parah, sekitar 20% pasien TKR masih merasakan nyeri bahkan setelah operasi selesai.
Sementara itu, radiofrekuensi ablasi lutut tanpa operasi menawarkan pendekatan yang jauh lebih ringan:
- Tidak ada sayatan besar, hanya bekas jarum kecil yang akan sembuh sendiri
- Tidak perlu rawat inap di rumah sakit
- Tidak memerlukan anestesi umum
- Risiko komplikasi jauh lebih rendah
- Sangat cocok bagi pasien yang membutuhkan solusi pengobatan osteoarthritis tanpa harus menjalani prosedur besar
Yang perlu dipahami adalah bahwa RFA bukan pengganti operasi dari sisi struktural. Artinya, RFA tidak memperbaiki kerusakan tulang rawan secara fisik.
Jika kerusakan sendi sudah sangat parah, operasi mungkin tetap diperlukan di kemudian hari.
Namun bagi banyak pasien, pengobatan nyeri kronis melalui RFA bisa menunda kebutuhan operasi selama bertahun-tahun sekaligus menjaga kualitas hidup tetap baik.
Kapan Radiofrekuensi Ablasi Dianjurkan?
Radiofrekuensi ablasi setelah gagal pengobatan konservatif adalah indikasi utama prosedur ini.
Artinya, RFA biasanya direkomendasikan ketika berbagai pengobatan lain sudah dicoba namun hasilnya kurang memuaskan—misalnya:
- Injeksi lutut steroid
- Injeksi Viskosuplemen (pelumas sendi)
- Terapi PRP (platelet rich plasma)
- Injeksi Stem Cell
- Injeksi Secretome
- Fisioterapi intensif
Sebelum menjalani RFA, dokter biasanya melakukan blok saraf genikular terlebih dahulu (Diagnostic Nerve Block), yaitu menyuntikkan obat bius lokal ke titik-titik saraf di sekitar lutut.
Jika nyeri berkurang secara signifikan setelah prosedur blok tersebut, maka itu pertanda bahwa pasien akan merespons radiofrekuensi ablasi genicular nerve dengan baik.
Siapa Saja yang Cocok Menjalani Radiofrekuensi Ablasi?
Berikut kriteria umum kandidat yang cocok menjalani radiofrekuensi ablasi:
- Pasien dengan diagnosis osteoarthritis lutut (osteoarthritis knee) atau arthritis lutut derajat sedang (Grade 2–3) yang sudah mengalami nyeri lutut menahun lebih dari 3–6 bulan.
- Pasien yang sudah mencoba berbagai pengobatan osteoarthritis konservatif namun belum mendapat hasil memuaskan.
- Pasien yang memberikan respons positif pada tes blok saraf genikular.
- Pasien lanjut usia atau pasien dengan kondisi kesehatan tertentu (seperti penyakit jantung atau diabetes berat) yang membuat operasi besar menjadi terlalu berisiko.
Radiofrekuensi Ablasi untuk Lansia dengan Nyeri Lutut
Radiofrekuensi ablasi untuk lansia dengan nyeri lutut adalah salah satu aplikasi paling penting dari prosedur ini.
Nyeri pada lansia akibat degenerasi sendi merupakan masalah yang sangat umum, namun penanganannya tidak bisa disamakan dengan pasien usia muda.
Semakin tua seseorang, semakin besar risiko yang ditimbulkan oleh operasi besar.
Prosedur RFA yang termasuk dalam kelompok pengobatan non-operasi ini terbukti aman bagi kelompok usia lanjut, membantu mereka tetap bisa berjalan dan beraktivitas secara mandiri tanpa harus menanggung risiko besar dari prosedur bedah.
Apakah RFA Aman?
Radiofrekuensi ablasi aman atau tidak adalah pertanyaan yang sangat wajar sebelum memutuskan menjalani prosedur ini.
Berdasarkan berbagai tinjauan ilmiah yang dirujuk oleh lembaga kesehatan terpercaya seperti Mayo Clinic, National Institutes of Health (NIH), dan American Academy of Orthopaedic Surgeons (AAOS), prosedur ini terbukti sangat aman.
Komplikasi serius hampir tidak pernah dilaporkan dalam studi berskala besar.
Efek samping radiofrekuensi ablasi lutut yang umum terjadi bersifat ringan dan sementara, seperti:
- Memar atau bengkak kecil di sekitar bekas tusukan jarum
- Rasa mati rasa sementara pada kulit di sekitar lutut
- Nyeri ringan selama beberapa hari pertama
Semua efek ini umumnya hilang dengan sendirinya dalam waktu singkat.
Risiko serius seperti infeksi atau kerusakan saraf besar sangat jarang terjadi karena seluruh prosedur dipandu oleh alat pencitraan canggih yang memungkinkan dokter bekerja dengan sangat presisi.
Bagaimana Pemulihan Setelah Radiofrekuensi Ablasi Lutut?
Salah satu keunggulan besar dari tindakan RFA untuk nyeri sendi lutut ini adalah masa pemulihannya yang singkat.
Tidak seperti operasi yang bisa membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk sembuh, pemulihan setelah radiofrekuensi ablasi lutut berlangsung jauh lebih cepat.
Pasien biasanya bisa pulang sekitar satu jam setelah prosedur selesai. Dalam 24–48 jam pertama, disarankan untuk mengompres dingin area lutut dan menghindari mengemudi.
Aktivitas ringan sudah bisa dilakukan sejak hari yang sama, dan dalam waktu sekitar satu minggu, sebagian besar pasien sudah merasakan perbedaan nyata dalam tingkat nyeri dan kemampuan bergerak mereka.
Ttermasuk berkurangnya nyeri saat berjalan yang selama ini sangat mengganggu.
Biaya Radiofrekuensi Ablasi Lutut
Biaya radiofrekuensi ablasi lutut memang bervariasi tergantung pada fasilitas kesehatan, jenis teknologi yang digunakan, dan jumlah saraf yang ditangani.
Namun bila dibandingkan dengan total biaya operasi penggantian lutut (Total Knee Replacement/TKR), Prosedur RFA umumnya jauh lebih terjangkau secara keseluruhan karena tidak memerlukan rawat inap maupun alat implan.
Kesimpulan tentang Radiofrekuensi Ablasi
Radiofrekuensi ablasi adalah salah satu solusi terbaik yang tersedia saat ini bagi penderita kerusakan sendi lutut akibat osteoarthritis, pengapuran lutut, atau degenerasi sendi yang sudah tidak merespons pengobatan biasa.
Terapi lutut tanpa operasi berbasis radiofrequency ablation ini memberikan harapan nyata bagi jutaan penderita nyeri sendi lutut, termasuk para lansia yang tidak memungkinkan menjalani operasi besar.
Jika Anda atau anggota keluarga mengalami nyeri saat berjalan atau nyeri lutut menahun yang mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis di klinik nyeri lutut dan sendi terbaik seperti Klinik Patella.
Tim dokter akan membantu menentukan apakah Anda adalah kandidat yang tepat untuk menjalani prosedur radiofrekuensi ablasi genikular ini.
Jika ingin berkonsultasi tentang nyeri lutut dan sendi dengan dokter ahli Klinik Patella dapat menghubungi melalui WhatsApp di 0811-8124-2022. Yuk atasi cedera kaki dan sendi Anda bersama Klinik Patella!
Klinik Patella: Klinik Spesialis Nyeri Lutut dan Sendi Terbaik
Bagi yang sedang mencari rekomendasi dokter nyeri lutut terbaik di Jakarta, Klinik Patella hadir sebagai klinik nyeri lutut dan sendi terbaik dengan layanan yang lengkap dalam satu atap.
Sebagai klinik spesialis nyeri lutut dan sendi, Klinik Patella menyediakan berbagai pilihan pengobatan mulai dari:
- Fisioterapi
- Hidroterapi
- Injeksi Viskosuplemen
- Injeksi PRP (Platelet Rich Plasma)
- Terapi Secretome
- Terapi Stem Cell
- Radiofrekuensi Ablasi
- Endoskopi Richard Wolf
- Total Knee Replacement
Tim dokter Klinik Patella adalah:
- dr. Nelfidayani, Sp.KFR, M.S.(K), FIPM (USG)
- dr. Windi Martika, Sp.OT
- dr. Sri Wahyuni, Sp.KFR
- dr. Rifalisanto, Sp.KFR, FIPM (USG)
- Prof. Dr. dr. Darto Satoto, SpAn,TI.Subs.An.Reg.
- dr. Yulia Hafni, Sp.An-TI, FIP, CIPS
Yang membuat Klinik Patella berbeda adalah pendekatan tim yang melibatkan Dokter Spesialis Ortopedi, Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, dan Dokter Spesialis Anestesiologi yang bekerja bersama-sama.
Jadi, pasien mendapatkan penanganan yang menyeluruh, bukan hanya dari satu sudut pandang.
Ini sangat penting, terutama bagi pasien lansia atau mereka yang memiliki kondisi kesehatan lain yang perlu dipertimbangkan sebelum menentukan jenis pengobatan.
FAQ: RFA
Apa itu radiofrekuensi ablasi untuk nyeri lutut?
Radiofrekuensi ablasi (RFA) adalah prosedur medis minim invasif yang bekerja dengan cara menonaktifkan sementara saraf genikular (saraf kecil di sekitar sendi lutut yang mengirimkan sinyal nyeri ke otak), menggunakan panas dari gelombang radiofrekuensi.
Prosedur ini tidak memerlukan operasi besar maupun rawat inap.
Siapa saja yang cocok menjalani radiofrekuensi ablasi lutut?
Radiofrekuensi ablasi dianjurkan bagi penderita osteoarthritis lutut derajat sedang (Grade 2–3) yang mengalami nyeri lutut menahun lebih dari 3–6 bulan dan sudah tidak merespons pengobatan konservatif seperti fisioterapi, injeksi lutut, atau terapi PRP.
Prosedur ini juga sangat cocok untuk pasien lanjut usia yang berisiko tinggi menjalani operasi besar.
Berapa lama efek radiofrekuensi ablasi lutut bisa bertahan?
Berdasarkan penelitian medis internasional, efek pereda nyeri dari radiofrekuensi ablasi lutut dapat bertahan hingga 12 bulan, bahkan pada beberapa kasus hingga 24 bulan.
Jika nyeri kembali muncul setelah beberapa waktu, prosedur ini dapat diulang kembali dengan aman.
Apakah radiofrekuensi ablasi lutut aman dan apa efek sampingnya?
Ya, radiofrekuensi ablasi lutut tergolong sangat aman berdasarkan berbagai tinjauan ilmiah dari lembaga terpercaya seperti NIH dan AAOS.
Efek samping yang umum terjadi bersifat ringan dan sementara, seperti memar kecil, rasa mati rasa di sekitar lutut, atau nyeri ringan selama beberapa hari pertama. Komplikasi serius sangat jarang terjadi.

















