Banyak orang tua yang mengaitkan keluhan nyeri sendi pada anak dengan kelelahan atau pertumbuhan normal pada anak. Namun ada kondisi medis yang lebih serius, yaitu radang sendi pada anak.
Penyakit ini kerap tidak terdiagnosis karena gejalanya menyerupai cedera ringan atau nyeri tumbuh biasa, padahal deteksi dini sangat menentukan kualitas hidup anak di masa depan.
Jika ingin berkonsultasi tentang nyeri lutut dan sendi dengan dokter ahli Klinik Patella dapat menghubungi melalui WhatsApp di 0811-8124-2022. Yuk atasi cedera kaki dan sendi Anda bersama Klinik Patella!
Daftar Isi
- Apa Itu Radang Sendi pada Anak?
- Mengapa Sulit Dikenali sejak Awal?
- Tanda Radang Sendi pada Anak yang Perlu Diwaspadai
- 1. Pembengkakan Sendi
- 2. Kekakuan Sendi di Pagi Hari
- 3. Nyeri dan Rasa Hangat pada Sendi
- 4. Keterbatasan Gerak dan Penurunan Mobilitas
- 5. Pincang Tanpa Riwayat Cedera
- Jenis-Jenis Juvenile Idiopathic Arthritis
- 1. Oligoarticular JIA
- 2. Polyarticular JIA
- 3. Systemic Juvenile Idiopathic Arthritis atau Penyakit Still
- 4. Enthesitis-Related Arthritis
- 5. Psoriatic Arthritis
- Perbedaan Radang Sendi dan Nyeri Biasa
- Faktor Risiko Radang Sendi pada Anak
- Komplikasi Radang Sendi pada Anak
- Diagnosis Arthritis pada Anak
- Cara Mengobati Radang Sendi pada Anak
- Kesimpulan tentang Radang Sendi pada Anak
- Klinik Patella: Klinik Spesialis Nyeri Lutut dan Sendi Terbaik
- FAQ: Radang Sendi Pada Anak
Apa Itu Radang Sendi pada Anak?
Radang sendi pada anak, yang dikenal sebagai Juvenile Idiopathic Arthritis (JIA) atau Juvenile Rheumatoid Arthritis (JRA), adalah penyakit autoimun di mana sistem kekebalan tubuh menyerang jaringannya sendiri.
Kondisi ini mengakibatkan peradangan kronis yang dapat merusak sendi secara permanen jika tidak ditangani.
Apakah anak bisa terkena radang sendi? Jawabannya adalah ya.
Juvenile Arthritis didefinisikan sebagai arthritis pada anak yang dimulai sebelum usia 16 tahun dan berlangsung minimal enam minggu.
Penyebab radang sendi pada anak belum diketahui secara pasti, namun kombinasi faktor genetik dan paparan lingkungan diyakini berperan sebagai pemicu respons sistem imun anak yang keliru, sehingga menyebabkan inflamasi berkelanjutan pada jaringan sendi.
Mengapa Sulit Dikenali sejak Awal?
Anak-anak, khususnya yang masih balita, belum mampu menggambarkan rasa kaku atau nyeri dengan jelas. Mereka mungkin hanya tampak lebih rewel, mudah lelah, atau enggan berjalan.
Kondisi inilah yang membuat penyakit rematik anak sering disalahartikan sebagai nyeri tumbuh atau kelelahan biasa.
Selain itu, sistem imun anak yang sedang berkembang membuat tanda-tanda peradangan sinovial tidak selalu tampak mencolok.
Diagnosis radang sendi karena gangguan autoimun baru dipertimbangkan apabila radang kronis berlangsung lebih dari enam minggu dan tidak memiliki penyebab lain yang jelas.
Tanda Radang Sendi pada Anak yang Perlu Diwaspadai
Berikut adalah gejala radang sendi pada anak yang perlu mendapat perhatian serius dari orang tua maupun tenaga medis.
1. Pembengkakan Sendi
Pembengkakan sendi adalah tanda paling objektif dari arthritis pada anak.
Sendi bengkak pada anak, terutama pada area lutut, pergelangan tangan, pergelangan kaki, pinggul, atau siku, terjadi akibat penumpukan cairan inflamasi di dalam rongga sendi.
Lutut bengkak pada anak yang tidak disertai riwayat cedera merupakan sinyal yang perlu segera dievaluasi.
Pembengkakan ini biasanya membuat bentuk sendi terlihat lebih bulat atau lebih besar dari biasanya.
2. Kekakuan Sendi di Pagi Hari
Sendi kaku saat pagi hari adalah ciri khas yang membedakan radang sendi dari cedera biasa. Setelah bangun tidur, anak mungkin kesulitan berjalan, merangkak, atau mengepalkan tangan.
Kekakuan ini umumnya mereda setelah anak bergerak aktif atau mandi air hangat selama 30 hingga 60 menit.
Kekakuan sendi yang muncul secara konsisten setiap pagi merupakan indikasi penting untuk dilakukan diagnosis arthritis pada anak lebih lanjut.
3. Nyeri dan Rasa Hangat pada Sendi
Nyeri lutut anak atau radang lutut pada anak yang disertai rasa hangat saat disentuh menandakan adanya peradangan aktif.
Anak mungkin tidak mengungkapkan rasa sakit secara verbal, tetapi akan menunjukkan perubahan cara berjalan, seperti pincang atau enggan menggunakan sendi yang bersangkutan.
Peradangan sendi yang aktif biasanya juga ditandai dengan kemerahan di sekitar area yang terkena.
4. Keterbatasan Gerak dan Penurunan Mobilitas
Peradangan kronis pada sendi menyebabkan keterbatasan gerak yang signifikan.
Anak yang mengalami gangguan muskuloskeletal anak mungkin tidak mampu meluruskan lutut atau tangan sepenuhnya.
Dalam konteks aktivitas fisik, mobilitas dan aktivitas fisik anak seperti berlari, bermain sepak bola, futsal, melakukan sprint, tendangan bola, atau gerakan perubahan arah mendadak (cutting movement) akan terasa sangat menyakitkan atau bahkan tidak bisa dilakukan sama sekali.
5. Pincang Tanpa Riwayat Cedera
Pincang yang muncul tiba-tiba tanpa didahului jatuh atau benturan adalah tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan.
Kondisi ini merupakan respons tubuh untuk mengurangi beban pada sendi yang meradang, khususnya akibat nyeri muskuloskeletal pada anak di area lutut atau pergelangan kaki.
Jenis-Jenis Juvenile Idiopathic Arthritis
Juvenile Idiopathic Arthritis memiliki beberapa subtipe dengan karakteristik berbeda yang memengaruhi prognosis dan pendekatan pengobatan juvenile idiopathic arthritis.
1. Oligoarticular JIA
Oligoarticular JIA menyerang kurang dari lima sendi besar, seperti lutut atau pergelangan kaki, dalam enam bulan pertama.
Tipe ini paling umum ditemukan dan lebih sering terjadi pada anak perempuan. Risiko komplikasi mata berupa uveitis cukup tinggi pada tipe ini.
2. Polyarticular JIA
Tipe ini menyerang lima sendi atau lebih secara bersamaan, baik sendi kecil maupun besar, dengan pola yang seringkali simetris. Tipe ini menyerupai penyakit autoimun pada orang dewasa.
3. Systemic Juvenile Idiopathic Arthritis atau Penyakit Still
JIA jenis ini ditandai oleh demam tinggi yang muncul setiap hari, biasanya pada sore atau malam hari, disertai ruam kemerahan berwarna merah muda yang muncul saat demam.
Komplikasi serius seperti Macrophage Activation Syndrome dapat mengancam jiwa.
4. Enthesitis-Related Arthritis
Jenis ini lebih sering menyerang anak laki-laki di atas delapan tahun, dengan peradangan tidak hanya pada sendi tetapi juga pada titik perlekatan tendon ke tulang, seperti di tumit atau sekitar tempurung lutut.
5. Psoriatic Arthritis
Psoriatic Arthritis disertai dengan ruam kulit bersisik atau perubahan pada kuku, serta dapat menimbulkan pembengkakan seluruh jari tangan atau kaki.
Perbedaan Radang Sendi dan Nyeri Biasa
Orang tua sering kali kesulitan membedakan perbedaan radang sendi dan nyeri biasa pada anak.
Sebagai panduan umum, nyeri tumbuh biasanya muncul pada sore atau malam hari setelah anak beraktivitas, tidak disertai pembengkakan, dan membaik setelah dipijat atau diistirahatkan.
Sebaliknya, peradangan sendi pada penderita JIA cenderung lebih terasa pada pagi hari atau setelah istirahat panjang, disertai pembengkakan yang teraba hangat, dan tidak membaik hanya dengan pijatan.
Lokasi nyeri pun lebih spesifik, yaitu pada sendi tertentu seperti lutut, pergelangan tangan, atau siku, bukan pada otot paha atau betis seperti nyeri tumbuh biasa.
Faktor Risiko Radang Sendi pada Anak
Beberapa faktor risiko radang sendi pada anak yang telah diidentifikasi meliputi:
- Riwayat keluarga dengan penyakit autoimun
- Jenis kelamin perempuan yang lebih rentan terhadap tipe Oligoarticular dan Polyarticular
- Paparan lingkungan seperti asap rokok
- Infeksi virus tertentu yang dapat memicu respons sistem imun yang keliru pada anak dengan predisposisi genetik.
Komplikasi Radang Sendi pada Anak
Tanpa penanganan yang tepat, komplikasi radang sendi pada anak dapat berdampak jangka panjang.
Peradangan kronis mengikis tulang rawan dan menyebabkan sinovitis yang berpotensi melumpuhkan fungsi sendi secara permanen.
Gangguan pertumbuhan juga dapat terjadi, misalnya perbedaan panjang tungkai akibat radang lutut yang tidak tertangani, atau gangguan perkembangan rahang jika sendi temporomandibular terlibat.
Pemantauan jangka panjang penyakit kronis ini sangat penting untuk mencegah komplikasi mata berupa uveitis yang jika tidak terdeteksi dapat berujung pada kebutaan.
Diagnosis Arthritis pada Anak
Proses diagnosis arthritis pada anak dilakukan secara komprehensif oleh dokter anak atau spesialis rheumatologi pediatrik.
Pemeriksaan meliputi anamnesis mendalam mengenai riwayat penyakit autoimun dalam keluarga, seperti Lupus pada anak atau psoriasis, serta pemeriksaan fisik pada sendi yang terkena.
Proses pemeriksaan darah dilakukan untuk mengukur penanda inflamasi seperti LED (Laju Endap Darah) dan CRP (C-Reactive Protein), serta pemeriksaan ANA Test dan Rheumatoid Factor (RF) untuk menentukan subtipe penyakit.
Pemeriksaan pencitraan menggunakan Foto Rontgen, USG muskuloskeletal, atau MRI dilakukan untuk menilai kondisi tulang rawan dan jaringan sinovial.
Pemeriksaan mata dengan slit lamp juga wajib dilakukan secara rutin untuk mendeteksi uveitis yang sering tidak bergejala.
Cara Mengobati Radang Sendi pada Anak
Tujuan cara mengobati radang sendi pada anak bukan sekadar menghilangkan nyeri, melainkan menghentikan proses peradangan agar tidak terjadi kerusakan sendi jangka panjang.
Pendekatan pengobatan bersifat multidisiplin, melibatkan dokter ortopedi, dokter anak, fisioterapi, dan terapi okupasi.
Dari sisi farmakologi, obat antiinflamasi seperti NSAID digunakan untuk mengatasi nyeri dan bengkak ringan.
Kortikosteroid dapat diberikan melalui injeksi sendi langsung untuk efek cepat, atau dalam bentuk pil pada kasus sistemik.
DMARDs seperti Methotrexate menjadi andalan untuk mengendalikan respons imun dan mencegah kerusakan sendi progresif, sementara Terapi Biologi menargetkan molekul spesifik pemicu inflamasi.
Dari sisi non-farmakologi, fisioterapi berperan penting dalam menjaga rentang gerak sendi dan memperkuat otot yang melemah akibat peradangan.
Terapi fisik dan terapi latihan yang terstruktur, kompres dingin untuk serangan akut, serta metode RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation) direkomendasikan untuk penanganan awal.
Rehabilitasi jangka panjang juga diperlukan agar anak dapat kembali beraktivitas secara optimal.
Penggunaan brace lutut dapat membantu stabilisasi sendi selama masa pemulihan.
Pada kasus yang lebih berat, prosedur seperti injeksi sendi dengan injeksi viskosuplemen atau Prosedur Richard Wolf dapat dipertimbangkan.
Untuk kasus nyeri lutut kronis yang tidak merespons terapi konvensional, klinik nyeri lutut dan sendi terbaik seperti Klinik Patella menyediakan beberapa terapi sebagai pilihan lanjutan setelah lini pengobatan pertama tidak memberikan hasil optimal:
- Terapi PRP (Platelet-Rich Plasma)
- Injeksi Stem Cell
- Injeksi Secretome
- Radiofrekuensi Ablasi
Kesimpulan tentang Radang Sendi pada Anak
Radang sendi pada anak adalah kondisi serius yang membutuhkan kewaspadaan dan penanganan dini.
Tanda-tanda seperti pembengkakan sendi, kekakuan di pagi hari, pincang tanpa sebab, atau demam berkepanjangan yang berlangsung lebih dari enam minggu harus segera dikonsultasikan kepada tenaga medis yang berpengalaman dalam rheumatologi pediatrik dan kesehatan sendi anak.
Dengan pengobatan juvenile idiopathic arthritis yang tepat, sebagian besar anak dapat mencapai remisi dan mempertahankan kualitas hidup anak yang optimal.
Jika ingin berkonsultasi tentang nyeri lutut dan sendi dengan dokter ahli Klinik Patella dapat menghubungi melalui WhatsApp di 0811-8124-2022. Yuk atasi cedera kaki dan sendi Anda bersama Klinik Patella!
Klinik Patella: Klinik Spesialis Nyeri Lutut dan Sendi Terbaik
“Deteksi dini nyeri lutut adalah langkah terpenting untuk mencegah kerusakan permanen lutut, dan memastikan penyebab nyeri hilang,” ujar salah satu dokter spesialis Klinik Patella, dr. Windi Martika, Sp.OT.
Bagi yang sedang mencari rekomendasi dokter nyeri lutut terbaik di Jakarta, Klinik Patella hadir sebagai klinik nyeri lutut dan sendi terbaik dengan layanan yang lengkap dalam satu atap.
Sebagai klinik spesialis nyeri lutut dan sendi, Klinik Patella menyediakan berbagai pilihan pengobatan mulai dari:
- Fisioterapi
- Hidroterapi
- Injeksi Viskosuplemen
- Injeksi PRP (Platelet Rich Plasma)
- Terapi Secretome
- Terapi Stem Cell
- Radiofrekuensi Ablasi
- Prosedur Richard Wolf
- Total Knee Replacement
Tim dokter Klinik Patella adalah:
- dr. Nelfidayani, Sp.KFR, M.S.(K), FIPM (USG)
- dr. Windi Martika, Sp.OT
- dr. Sri Wahyuni, Sp.KFR
- dr. Rifalisanto, Sp.KFR, FIPM (USG)
- Prof. Dr. dr. Darto Satoto, SpAn,TI.Subs.An.Reg.
- dr. Yulia Hafni, Sp.An-TI, FIP, CIPS
Yang membuat Klinik Patella berbeda adalah pendekatan tim yang melibatkan Dokter Spesialis Ortopedi, Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, dan Dokter Spesialis Anestesiologi yang bekerja bersama-sama.
Jadi, pasien mendapatkan penanganan yang menyeluruh, bukan hanya dari satu sudut pandang.
Ini sangat penting, terutama bagi pasien lansia atau mereka yang memiliki kondisi kesehatan lain yang perlu dipertimbangkan sebelum menentukan jenis pengobatan.
FAQ: Radang Sendi Pada Anak
Apa itu radang sendi pada anak dan siapa saja yang bisa terkena?
Radang sendi pada anak atau Juvenile Idiopathic Arthritis (JIA) adalah penyakit autoimun di mana sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sendinya sendiri, khususnya sinovium.
Kondisi ini dapat menyerang anak-anak di bawah usia 16 tahun, baik laki-laki maupun perempuan, dan berlangsung minimal enam minggu.
Apa saja tanda-tanda radang sendi pada anak yang perlu diwaspadai orang tua?
Tanda-tanda yang perlu diwaspadai meliputi:
- Pembengkakan sendi tanpa riwayat cedera
- Kekakuan sendi di pagi hari yang berlangsung lebih dari 30 menit
- Sendi terasa hangat saat disentuh
- Keterbatasan gerak
- Anak tiba-tiba pincang tanpa sebab yang jelas
Jika gejala-gejala ini berlangsung lebih dari enam minggu, segera konsultasikan ke dokter.
Apa perbedaan radang sendi pada anak dengan nyeri tumbuh biasa?
Nyeri tumbuh biasanya muncul pada sore atau malam hari setelah beraktivitas, tidak disertai pembengkakan, dan membaik setelah dipijat atau diistirahatkan.
Sebaliknya, radang sendi pada anak cenderung terasa lebih berat pada pagi hari atau setelah istirahat panjang, disertai pembengkakan yang teraba hangat pada sendi tertentu seperti lutut, pergelangan tangan, atau siku, dan tidak membaik hanya dengan pijatan.
Bagaimana cara mengobati radang sendi pada anak?
Pengobatan radang sendi pada anak bersifat multidisiplin.
Dari sisi obat-obatan, dokter dapat meresepkan NSAID untuk nyeri ringan, DMARDs seperti Methotrexate untuk mengendalikan sistem imun, hingga Terapi Biologi untuk kasus berat.
Dari sisi non-farmakologi, fisioterapi, terapi latihan, kompres dingin, dan metode RICE digunakan untuk menjaga fungsi sendi.
Pada kasus yang tidak merespons terapi konvensional, tersedia pilihan lanjutan seperti terapi PRP, injeksi stem cell, dan radiofrekuensi ablasi di klinik nyeri lutut dan sendi terbaik seperti Klinik Patella.