Ringkasan: Tendon achilles adalah tendon terbesar dan terkuat dalam tubuh manusia. Cedera tendon achilles terbagi dalam dua jenis utama, yaitu peradangan dan ruptur tendon. Pemulihan tendon achilles tergantung tingkat keparahan cedera.
Pernah merasakan nyeri di bagian belakang tumit saat berjalan, atau mendengar bunyi “pop” keras di pergelangan kaki saat berolahraga? Bisa jadi itu adalah masalah pada tendon achilles.
Bagian tubuh ini sering kali tidak disadari keberadaannya, padahal perannya sangat besar dalam setiap langkah yang kita ambil sehari-hari.
Artikel ini menjelaskan secara lengkap mulai dari fungsi, jenis cedera, cara pengobatan, hingga langkah pencegahan yang bisa dilakukan.
Jika ingin berkonsultasi tentang sakit kaki dan nyeri lutut dengan dokter ahli Klinik Patella dapat menghubungi melalui WhatsApp di 0811-8124-2022. Yuk atasi nyeri lutut dan sendi Anda bersama Klinik Patella!
Daftar Isi
- Apa Itu Tendon Achilles?
- Letak Tendon Achilles Dimana?
- Fungsi Tendon Achilles pada Tubuh
- Penyebab dan Jenis Cedera Tendon Achilles
- 1. Peradangan Tendon Achilles (Achilles Tendinitis)
- 2. Ruptur Tendon Achilles (Robekan)
- Perbedaan Tendinitis dan Ruptur Achilles
- Gejala Tendon Achilles Bermasalah
- Diagnosis: Bagaimana Dokter Menentukan Kondisi Anda?
- Cara Mengobati Cedera Tendon Achilles
- Penanganan Tanpa Operasi
- Latihan untuk Tendon Achilles
- Terapi Modern untuk Tendon Achilles
- Operasi Tendon Achilles dan Risikonya
- Berapa Lama Penyembuhan Tendon Achilles?
- Pencegahan Cedera Tendon Achilles
- Kapan Harus ke Dokter?
- Klinik Patella: Klinik Spesialis Nyeri Lutut dan Sendi Terbaik
- Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa Itu Tendon Achilles?
Sebelum membahas cederanya, penting untuk memahami terlebih dahulu apa itu tendon achilles.
Dalam tubuh manusia, tendon adalah jaringan keras seperti tali yang bertugas menghubungkan otot dengan tulang. Tanpa tendon, otot tidak bisa menggerakkan tulang, sehingga kita tidak bisa bergerak sama sekali.
Tendon achilles, yang juga dikenal dengan nama tendon calcaneus, adalah tendon terbesar dan terkuat dalam seluruh tubuh manusia.
Namanya berasal dari tokoh mitologi Yunani bernama Achilles, yang dikenal kuat namun memiliki satu titik lemah di bagian tumitnya — sebuah gambaran yang cukup tepat untuk mendeskripsikan tendon ini.
Tendon achilles termasuk dalam sistem muskuloskeletal (otot, tendon, ligamen), yaitu sistem yang memungkinkan tubuh manusia bergerak.
Ia menjadi penghubung utama antara otot betis dan tulang tumit, dan karena itu menjadi salah satu titik paling rentan terhadap cedera olahraga (sports injury).
Letak Tendon Achilles Dimana?
Letak tendon achilles dimana? Cobalah raba bagian belakang pergelangan kaki Anda, tepat di atas tumit. Tali keras yang terasa di sana, itulah tendon achilles.
Secara lebih rinci, dalam anatomi kaki dan pergelangan kaki, tendon ini berasal dari dua otot utama di bagian belakang betis, yaitu:
- Otot gastrocnemius: otot betis bagian luar yang membentuk lekukan khas di betis
- Otot soleus: otot yang berada di lapisan lebih dalam, di bawah gastrocnemius
Kedua otot betis ini menyatu dan membentuk satu tendon yang kemudian menancap pada permukaan belakang tulang tumit atau calcaneus.
Uniknya, serat-serat tendon ini tersusun dalam pola memutar seperti tali yang dikepang. Susunan inilah yang membuat tendon achilles begitu kuat sekaligus cukup fleksibel untuk menahan beban berat setiap hari.
Fungsi Tendon Achilles pada Tubuh
Fungsi tendon achilles pada tubuh bisa diringkas dalam satu kalimat: ia memungkinkan kita untuk mendorong kaki ke bawah.
Gerakan ini dalam istilah medis disebut plantar fleksi, yaitu gerakan mengarahkan telapak kaki ke bawah, seperti saat berjinjit atau menginjak pedal gas.
Namun peran tendon achilles jauh lebih dari sekadar itu. Mekanisme gerakan berjalan, berlari, dan melompat semuanya bergantung pada tendon ini.
- Saat berjalan, tendon achilles mendorong tubuh ke depan di setiap langkah.
- Saat berlari, ia bekerja seperti pegas yang menyerap hentakan saat kaki mendarat, lalu melepaskan energi itu untuk melontarkan tubuh ke depan.]
- Saat melompat, tendon ini menjadi sumber dorongan utama ke atas.
Yang mengejutkan, tendon achilles mampu menanggung beban sebesar 3 hingga 12 kali berat badan kita saat berolahraga.
Kondisi ini menjelaskan mengapa tendon ini, meski sangat kuat, juga sangat rentan cedera jika dipaksakan melampaui batasnya.
Penyebab dan Jenis Cedera Tendon Achilles

Cedera pada tendon achilles terbagi dalam dua jenis utama yang penting untuk dibedakan, karena penanganannya berbeda.
1. Peradangan Tendon Achilles (Achilles Tendinitis)
Peradangan tendon achilles atau achilles tendinitis adalah kondisi di mana tendon mengalami iritasi dan pembengkakan akibat terlalu sering digunakan.
Ini bukan cedera karena satu kecelakaan besar, melainkan akibat akumulasi tekanan kecil yang berulang-ulang tanpa waktu istirahat yang cukup.
Dalam dunia medis, ini disebut overuse injury (cedera akibat penggunaan berlebih).
Beberapa hal yang sering menjadi penyebab cedera tendon achilles jenis ini antara lain:
- Menambah intensitas olahraga terlalu tiba-tiba
- Tidak melakukan pemanasan sebelum berolahraga
- Mengganti jenis sepatu secara drastis
- Faktor biomekanik kaki seperti telapak kaki yang terlalu datar
Ketika tendon mulai rusak akibat tekanan berulang, tubuh memicu proses inflamasi (peradangan) sebagai respons alami, inilah yang menyebabkan rasa nyeri, panas, dan bengkak yang khas.
Selain itu, proses degenerasi jaringan tendon yang terjadi seiring usia atau akibat beban berulang juga meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi ini.
2. Ruptur Tendon Achilles (Robekan)
Berbeda dari tendinitis yang berkembang perlahan, ruptur tendon adalah cedera yang terjadi secara mendadak.
Ini adalah kondisi di mana serat-serat tendon robek, baik sebagian maupun seluruhnya, akibat satu gerakan eksplosif yang tiba-tiba, seperti berlari kencang mendadak atau melakukan lompatan dengan tumpuan keras.
Perbedaan Tendinitis dan Ruptur Achilles
Banyak orang yang belum paham perbedaan tendinitis dan ruptur achilles. Padahal keduanya sangat berbeda, baik dari cara kemunculannya maupun gejalanya.
|
Aspek |
Tendinitis (Peradangan) |
Ruptur (Robekan) |
|
Kemunculan |
Perlahan, dalam hitungan minggu hingga bulan |
Tiba-tiba, dalam satu momen |
|
Penyebab |
Terlalu sering digunakan tanpa istirahat |
Gerakan mendadak dan eksplosif |
|
Suara |
Tidak ada suara khas |
Sering terdengar bunyi “pop” keras |
|
Gejala utama |
Nyeri dan kaku, terutama di pagi hari |
Nyeri luar biasa, tidak bisa berdiri berjinjit |
Gejala Tendon Achilles Bermasalah
Mengenali gejala tendon achilles bermasalah sejak awal sangat penting agar kondisi tidak semakin parah.
Pada kasus peradangan, gejala yang paling umum adalah:
- Rasa kaku dan nyeri di belakang tumit yang terasa paling berat saat baru bangun tidur di pagi hari.
- Ada pula pembengkakan tendon yang terasa seperti benjolan saat diraba
- Inflamasi tendon yang terus-menerus tanpa penanganan yang tepat dapat memperlemah struktur jaringan secara permanen.
- Banyak penderita mengeluhkan tendon achilles sakit saat berjalan, khususnya saat melangkah dan mendorong kaki ke depan.
Gejala ini biasanya sedikit mereda setelah tubuh “pemanasan”, namun kembali terasa saat aktivitas berat.
Pada kasus ruptur, gejalanya jauh lebih dramatis:
- Penderita biasanya langsung mendengar bunyi keras seperti tamparan atau letusan
- Rasa sakit yang sangat hebat di area betis belakang, sering digambarkan seperti ditendang dari belakang
- Setelah itu, kaki tidak bisa digerakkan untuk berjinjit sama sekali.
Diagnosis: Bagaimana Dokter Menentukan Kondisi Anda?
Dokter spesialis ortopedi biasanya akan memulai dengan pemeriksaan fisik sederhana yang disebut Tes Thompson.
Pada tes ini, pasien berbaring tengkurap dan betisnya diremas oleh dokter. Jika kaki tidak bergerak sama sekali saat betis diremas, itu adalah tanda kuat bahwa tendon telah robek sepenuhnya.
Untuk memastikan diagnosis, dokter dapat merekomendasikan beberapa pemeriksaan penunjang:
- X-ray (rontgen): Membantu melihat kondisi tulang dan kemungkinan adanya pengapuran di sekitar tendon.
- Ultrasonografi (USG): Dapat memperlihatkan kondisi serat tendon secara langsung dan real-time, sehingga cocok untuk melihat apakah ada robekan.
- MRI (Magnetic Resonance Imaging): Memberikan gambaran paling detail dari jaringan lunak, dan sangat berguna untuk merencanakan tindakan operasi tendon achilles bila diperlukan.
Cara Mengobati Cedera Tendon Achilles
Cara mengobati cedera tendon achilles ditentukan berdasarkan seberapa parah kondisinya. Ada dua jalur utama penanganan, yaitu tanpa operasi dan dengan operasi.
Penanganan Tanpa Operasi
Untuk kasus tendinitis atau robekan sebagian, dokter umumnya akan menyarankan pendekatan non-bedah terlebih dahulu.
Langkah awal yang dilakukan adalah:
- Beristirahat dari aktivitas yang memicu nyeri
- Mengompres es pada area yang sakit
- Membalut dengan perban elastis untuk mengurangi pembengkakan
- Menjaga posisi kaki lebih tinggi dari jantung saat beristirahat.
Penggunaan sepatu boot khusus atau alas kaki bertumit sedikit lebih tinggi dari biasanya juga dianjurkan untuk memberi tendon posisi yang lebih rileks selama masa pemulihan.
Obat anti-nyeri golongan NSAID dapat membantu meredakan keluhan, namun suntikan Kortikosteroid perlu dihindari atau digunakan sangat hati-hati karena berpotensi melemahkan struktur tendon.
Latihan untuk Tendon Achilles
Rehabilitasi dan fisioterapi adalah bagian paling penting dari proses penyembuhan.
Latihan untuk tendon achilles yang paling terbukti efektif adalah eksentrik exercise, yaitu latihan yang melatih otot sambil memanjang.
Salah satu latihan yang umum dilakukan adalah berdiri di pinggir anak tangga dengan bagian depan kaki yang menumpu, kemudian naik berjinjit dengan kedua kaki, lalu perlahan turunkan hanya dengan satu kaki (kaki yang sakit).
Gerakan turun yang perlahan inilah yang memberikan rangsangan penyembuhan pada tendon.
Stretching betis secara rutin juga dilakukan untuk mengurangi ketegangan pada tendon dan memperbaiki biomekanik kaki.
Program terapi fisik ini sebaiknya dirancang dan dipantau oleh dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi agar progres latihan berlangsung aman dan tepat sasaran.
Terapi Modern untuk Tendon Achilles
Saat ini tersedia berbagai terapi untuk tendon achilles yang lebih canggih dan bersifat regeneratif, terutama di Klinik Patella. Beberapa di antaranya adalah:
- Terapi Stem Cell: Menggunakan sel induk dari tubuh untuk membantu meregenerasi jaringan tendon yang rusak akibat degenerasi tendon.
- Terapi Secretome: Pendekatan yang mirip dengan stem cell namun menggunakan protein khusus hasil produksi sel, sebagai alternatif yang lebih mudah diterapkan.
- Platelet-Rich Plasma (PRP): Terapi menggunakan komponen darah pasien sendiri. Meski cukup populer, penelitian terkini menunjukkan efektivitasnya untuk tendinopati Achilles belum sepenuhnya terbukti melampaui plasebo, sehingga perlu didiskusikan terlebih dahulu dengan dokter.
- Injeksi Viskosuplemen: Suntikan cairan pelumas di sekitar tendon untuk mengurangi gesekan dan nyeri.
- Radiofrekuensi Ablasi: Prosedur untuk meredakan nyeri kronis dengan cara menonaktifkan jalur saraf tertentu, cocok untuk kasus yang sudah berlangsung lama dan tidak merespons terapi lain.
- Endoskopi Richard Wolf: Dalam kasus cedera yang melibatkan struktur sendi di sekitar pergelangan kaki dan lutut secara bersamaan, prosedur Endoskopi Richard Wolf dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh oleh dokter spesialis.
Semua pilihan terapi di atas harus dijalani atas rekomendasi dan pengawasan dokter, termasuk dokter spesialis anestesi bila penanganan nyeri lanjutan diperlukan.
Operasi Tendon Achilles dan Risikonya
Operasi tendon achilles umumnya direkomendasikan untuk kasus robekan total, terutama pada usia muda atau orang yang aktif secara fisik.
Tujuan operasi adalah menjahit kembali kedua ujung tendon yang terputus sehingga fungsi dan kekuatannya dapat pulih.
Sebelum memutuskan untuk operasi, penting untuk memahami operasi tendon achilles dan risikonya secara menyeluruh. Risiko yang dapat terjadi antara lain:
- Infeksi luka: Terjadi pada sekitar 6% kasus operasi terbuka.
- Cedera saraf sural: Dapat menyebabkan mati rasa atau kesemutan di sisi luar kaki.
- Pembekuan darah: Risiko terbentuknya bekuan di pembuluh darah tungkai (deep vein thrombosis).
Data dari penelitian klinis menunjukkan bahwa meskipun operasi sedikit lebih efektif dalam mencegah robekan kembali, total komplikasi yang terjadi justru lebih tinggi dibandingkan penanganan non-operasi.
Keputusan untuk operasi atau tidak harus diambil bersama dokter spesialis berdasarkan kondisi individual pasien.
Berapa Lama Penyembuhan Tendon Achilles?
Berapa lama penyembuhan tendon achilles adalah pertanyaan yang paling sering diajukan oleh penderita. Jawabannya bergantung pada jenis cedera:
- Tendinitis: Umumnya membutuhkan waktu 6–12 minggu untuk pulih secara signifikan dengan fisioterapi yang rutin.
- Robekan tanpa operasi: Fase penggunaan boot bisa berlangsung 6–12 minggu, dilanjutkan dengan rehabilitasi intensif selama beberapa bulan ke depan.
- Robekan pascaoperasi: Kembali ke aktivitas olahraga penuh membutuhkan waktu 6 hingga 12 bulan, tergantung pada kepatuhan menjalani program pemulihan.
Mengenai pertanyaan apakah tendon achilles robek apakah bisa sembuh tanpa operasi — jawabannya adalah bisa, namun terbatas pada kasus robekan sebagian.
Robekan total umumnya memerlukan intervensi medis agar fungsi tendon dapat pulih dengan baik.
Pencegahan Cedera Tendon Achilles
Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Pencegahan cedera tendon achilles dapat dilakukan melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana berikut:
- Naikkan intensitas latihan secara bertahap: Jangan menambah jarak lari atau beban lebih dari 10% per minggu agar tendon punya waktu beradaptasi.
- Selalu lakukan pemanasan: Peregangan dinamis sebelum berolahraga dan peregangan statis setelah berolahraga sangat penting untuk menjaga kelenturan tendon.
- Perkuat otot betis secara rutin: Latihan eksentrik secara teratur — bahkan saat tidak sedang cedera — terbukti mengurangi risiko degenerasi jaringan tendon.
- Pilih sepatu yang sesuai: Gunakan sepatu olahraga yang cocok dengan bentuk kaki dan ganti secara berkala sebelum solnya aus.
- Variasikan jenis olahraga: Selingi olahraga berdampak tinggi dengan aktivitas ringan seperti berenang atau bersepeda untuk menjaga kesehatan sendi dan mobilitas tanpa membebani tendon secara berlebihan.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera berkonsultasi dengan dokter spesialis ortopedi atau dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi jika:
- Nyeri tidak juga membaik setelah 2–3 minggu perawatan mandiri di rumah.
- Terdengar bunyi “pop” dan Anda tidak bisa berjalan normal setelahnya.
- Ada benjolan keras atau cekungan yang bisa diraba di sepanjang tendon.
Untuk kasus nyeri yang sudah berlangsung lama dan tidak merespons terapi biasa, dokter spesialis anestesi di klinik nyeri dapat memberikan pilihan penanganan yang lebih lanjut.
Jika ingin berkonsultasi tentang sakit kaki dan nyeri lutut dengan dokter ahli Klinik Patella dapat menghubungi melalui WhatsApp di 0811-8124-2022. Yuk atasi cedera kaki dan sendi Anda bersama Klinik Patella!
Klinik Patella: Klinik Spesialis Nyeri Lutut dan Sendi Terbaik
Bagi yang sedang mencari rekomendasi dokter nyeri lutut terbaik di Jakarta, Klinik Patella hadir sebagai klinik nyeri lutut dan sendi terbaik dengan layanan yang lengkap dalam satu atap.
Sebagai klinik spesialis nyeri lutut dan sendi, Klinik Patella menyediakan berbagai pilihan pengobatan mulai dari:
- Fisioterapi
- Hidroterapi
- Injeksi Viskosuplemen
- Injeksi PRP (Platelet Rich Plasma)
- Terapi Secretome
- Terapi Stem Cell
- Radiofrekuensi Ablasi
- Endoskopi Richard Wolf
- Total Knee Replacement
Tim dokter Klinik Patella adalah:
- dr. Nelfidayani, Sp.KFR, M.S.(K), FIPM (USG)
- dr. Windi Martika, Sp.OT
- dr. Sri Wahyuni, Sp.KFR
- dr. Rifalisanto, Sp.KFR, FIPM (USG)
- Prof. Dr. dr. Darto Satoto, SpAn,TI.Subs.An.Reg.
- dr. Yulia Hafni, Sp.An-TI, FIP, CIPS
- dr. Zecky Eko Triwahyudi, Sp.OT.Subsp.CO(K)
Yang membuat Klinik Patella berbeda adalah pendekatan tim yang melibatkan Dokter Spesialis Ortopedi, Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, dan Dokter Spesialis Anestesiologi yang bekerja bersama-sama.
Jadi, pasien mendapatkan penanganan yang menyeluruh, bukan hanya dari satu sudut pandang.
Ini sangat penting, terutama bagi pasien lansia atau mereka yang memiliki kondisi kesehatan lain yang perlu dipertimbangkan sebelum menentukan jenis pengobatan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah tendon achilles bisa robek tiba-tiba tanpa cedera sebelumnya?
Bisa terjadi. Dalam banyak kasus, degenerasi jaringan tendon akibat overuse injury yang berlangsung diam-diam selama bertahun-tahun melemahkan struktur tendon tanpa menimbulkan gejala yang jelas, hingga akhirnya satu gerakan mendadak memicu robekan.
Apakah boleh dipijat saat tendon achilles cedera?
Pijat pada otot betis, yaitu otot gastrocnemius dan soleus, dapat membantu melonggarkan ketegangan.
Namun, memijat langsung lokasi radang tendon justru bisa memperparah kondisi, sehingga tidak dianjurkan.
Bolehkah tetap berolahraga saat mengalami tendinitis?
Boleh, selama olahraga yang dipilih tidak memicu rasa sakit.
Berenang atau bersepeda statis umumnya lebih aman dibandingkan berlari selama masa pemulihan, karena tidak memberikan benturan langsung pada tendon.
Tendon achilles mungkin berukuran kecil, tetapi dampak cederanya bisa sangat besar terhadap kualitas hidup sehari-hari.
Dengan memahami fungsinya, mengenali gejalanya sejak dini, dan tidak menunda konsultasi ke dokter saat diperlukan, kesehatan sendi dan mobilitas Anda dapat terjaga dalam jangka panjang.