Terapi sendi lutut modern

Terapi Untuk Nyeri Sendi Lutut, Modern VS Konvensional

Nyeri lutut adalah salah satu nyeri yang menjadi masalah kesehatan di segala usia. Penyebabnya bisa disebabkan oleh cedera (misalnya robekan pada ligamen atau tulang rawan), dan kondisi kesehatan/medis yang mencakup radang sendi, gout dan infeksi. Terapi sendi lutut dibutuhkan untuk mengatasi gejala yang muncul pada pasien.

Klik Disini & Konsultasikan Masalah Nyeri Lutut Anda Via Whatsapp

 

Nyeri lutut yang berlangsung lama, tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, namun juga dapat menurunkan produktivitas dan kualitas hidup penderitanya. Lokasi dan keparahan nyeri lutut ini juga bisa bervariasi, bergantung pada penyebabnya. Gejala-gejala yang menyertai nyeri lutut berupa:

  • Bengkak
  • Rasa kaku di pagi hari,
  • Berwarna kemerahan dan terasa hangat bila diraba,
  • Lutut terasa lemah atau tidak stabil,
  • Berbunyi saat bergerak (krepitus), dan
  • Kadang disertai dengan ketidakmampuan meluruskan lutut

Terapi Nyeri pada Sendi Lutut Tergolong Rumit

Kini obat-obatan untuk terapi nyeri pada sendi lutut sudah semakin banyak bahkan kadang bisa tanpa resep sekali pun. Menurut dr William Bargar (American Academy of Orthopaedic Surgeons),”Obat bebas untuk atasi nyeri – pada lutut – ini perlu berhati-hati karena bila diminum tanpa resep dokter atau tidak sesuai dosis yang dianjurkan dapat berdampak pada hati, dan saluran cerna (ulkus dan perdarahan).”

Selain itu, studi oleh SA ElHafeez dkk (2019) juga menunjukkan obat-obatan antiinflamasi non-steroid yang diminum tidak sesuai dosis dapat berdampak pada penurunan fungsi ginjal.

Baca juga : Dr Ibrahim Agung SpKFR

Pemberian OAINS pada lansia dengan radang sendi sudah dibatasi mengingat dampaknya terhadap kardiovaskular, saluran cerna, ginjal dan hati. Hal ini tertulis dalam studi S Mushtaq (2011).

Tindakan bedah dengan metode total knee replacement (TKR) juga menjadi salah satu opsi untuk terapi nyeri dan peradangan pada sendi lutut bila kondisinya memburuk.

Meski demikian, banyak penderitanya merasa takut akan operasi atau menolak tindakan mengganti sendi dengan sendi buatan.

Komplikasi yang dapat timbul akibat tindakan bedah ini dapat berupa implan yang rusak/cacat, longgar sehingga dapat berisiko timbulkan fraktur, ketidakstabilan dan jatuh. Hampir semua komplikasi yang serius ini memerlukan operasi ulang.

Selain itu, komplikasi lain adalah nyeri dan bengkak hingga timbulnya reaksi penolakan implan, infeksi dan fraktur.

Dari dua studi yang berbeda (2006), angka komplikasi yang disebabkan oleh TKR ini bervariasi antara 1,65-11,3%. Komplikasi tindakan ini dapat berupa proses penyembuhan lebih lama, infeksi, deep vein thrombosis, keterbatasan gerakan, dan nyeri menetap.

Michael Whitehouse salah satu peneliti dari Inggris, melakukan penelitian pada sekitar 67.000 pasien pasca-TKR dan 3600 diantaranya perlu melakukan tindakan ulang akibat terjadi infeksi. Alasan dilakukannya TKR, bagaimana prosedur itu dilakukan, dan jenis TKR yang dilakukan merupakan beberapa faktor yang menyebabkan tindakan itu perlu diulang.

“Pasien yang menjalani TKR akibat cedera, radang sendi atau ada riwayat infeksi pada lutut yang mengalami nyeri, kemungkinan cenderung menjalani bedah tambahan akibat infeksi,” papar Michael lebih lanjut.

Itu sebabnya, pasien perlu berkonsultasi dengan dokter mengenai gejala atau tanda-tanda yang perlu diwaspadai pasca-TKR maupun saat dalam proses pemulihan.

Terapi Nyeri Pada Sendi Lutut Metode Modern

Nyeri lutut akibat peradangan – terutama yang kronis – membutuhkan terapi yang tidak singkat. Seiring dengan kemajuan teknologi, kini sudah tersedia opsi baru untuk membantu pengobatan atau terapi nyeri pada sendi lutut.

Opsi lainnya adalah dengan pemberian atau injeksi steroid, asam hyaluronat (disebut juga dengan viscosuplemen), platelet-rich plasma (PRP) dan radiofrekuensi ablasi (RFA).

Radiofrekuensi ablasi dilakukan untuk memutus pengiriman rangsangan nyeri melalui saraf yang mempersarafi lutut. Sedangkan viscosuplementasi ini layaknya menyuntikkan cairan pelumas atau ‘oli’ ke dalam sendi lutut.

Platelet-rich plasma (PRP) juga bisa menjadi pilihan lain untuk tangani nyeri sendi lutut yang juga merupakan tindakan minimal invasive, seperti RFA. Manfaat PRP antara lain membantu:

  • Menghambat proses inflamasi dan memperlambat perburukan peradangan;
  • Menstimulasi pembentukan tulang rawan baru;
  • Meningkatkan produksi cairan pelumas sendi alami sehingga dapat mengurangi gesekan sendi dan tulang nantinya; dan
  • Mengandung protein yang dapat memperbaiki reseptor nyeri sehingga mengurangi sensasi nyeri.

Beragam suplemen dan herbal untuk membantu terapi nyeri atau radang sendi lutut juga sudah banyak di pasaran. Namun sebaiknya sebelum mengonsumsi keduanya perlu konsultasi dengan dokter karena kemungkinan dapat berinteraksi dengan obat-obatan yang sedang dikonsumsi.

Klik Disini & Konsultasikan Masalah Nyeri Lutut Anda Via Whatsapp

 

Klinik Patella ‘One Stop Service’

Klinik Patella merupakan ‘One Stop Service’ dalam terapi nyeri pada sendi lutut karena memiliki beberapa para pakar lutut yang sudah banyak menangani nyeri lutut dengan optimal.

Selain layanan fisioterapi, berbagai intervensi – seperti injeksi steroid, viscosuplementasi – teknologi PRP dan RF juga menjadi keunggulan dalam layanan di Klinik Patella.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jl. Warung Jati Barat No. 34B, Kalibata, Jakarta 12760

Informasi dan Pendaftaran

Informasi dan Pendaftaran

021-2237-9999

Email

Email

marketingklinik@gmail.com

Book Online

Book Online

Appointment Now

Layanan Call Center